Sesuai judul yang saya buat, “seberapa pentingkah uang bagi anda?”, mungkin sudah banyak yang membahas tentang ini, namun saya akan sedikit bercerita mengenai pengalaman saya mengenai hal ini.

Saya terlahir di keluarga yang sederhana, namun dibilang kami kekurangan makan, sungguh tidak, kami selalu berkecukupan makan, kami bisa makan makanan yang biasanya dimakan orang kaya, seperti abalone soup (walaupun dikasih orang he..he..he..). Tapi mobil sih ga punya, cuma punya motor, yang biasa saya pakai sehari-hari untuk bekerja. Suatu hari setelah saya tinggal di Jakarta almost 2 tahun, saya tiba-tiba kepikiran untuk membeli rumah, yah..kebetulan lagi ada rezeki lebih, dapat bonus dari kantor, dan juga kepikiran untuk punya rumah buat tempat tinggal nanti setelah menikah. Cari-cari di situs2 jual beli rumah, eh ketemu dech sama 1 apartemen di jakarta barat, contact sana sini, akhirnya ketemuan dan deal harga sekitar 135 juta. Dibuatlah surat perjanjian untuk ketentuan dalam masa pengajuan KPR ke bank, ditanda tangani oleh kedua belah pihak diatas materai. Saya juga sudah membayar DP apartemen tersebut senilai 15 juta rupiah. Oke, kemudian proses pengajuan KPR pun berlangsung. Setelah 3 bulan lamanya, saya belum juga mendapatkan hasil dari Bank, maksudnya kalau hasil itu ada, namun tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Karena saya juga merasa sudah terlalu lama, maka saya pun mengambil keputusan untuk membatalkan pembelian apartemen dengan dihadiri oleh penjual dan saksi. Sesuai perjanjian tertulis, disebutkanlah bahwa jika saya yang membatalkan sepihak, maka saya harus membayar ganti rugi senilai DP yang sudah saya bayar, sedangkan jika penjual yang membatalkan sepihak, maka dia harus bayar 2x lipat dari DP saya. Tapi ada satu point, bahwa jika saya tidak diterima oleh bank, maka saya mendapat uang kembali sebesar 100%. Berdasarkan point itu, maka saya memberanikan diri untuk mengajukan mundur dari pembelian apartemen. Tapi setelah saya membicarakan itu dengan penjual, emang dasar penjual tidak mau rugi, saya pun ditolak dengan alasan bahwa saya masih bisa diterima oleh bank dengan kredit yang lebih lama dan pinjaman lebih sedikit, padahal jika saya menerima penawaran itu, saya bingung harus cari uang tambahan dimana, sedangkan uang saya pas-pasan. Jika saya ngotot, saya juga ada salah, maka setelah bermusyawarah dengan pihak penjual, barulah dapat keputusan bahwa dia akan memotong uang saya menjadi setengahnya alias 7,5 juta yang bisa dikembalikan kepada saya.

Dari pengalaman diatas, pandangan saya menyebutkan bahwa, saya orang kecil, penjual orang kaya, namun masih saja uang 7,5 juta itu diambil, sedangkan bisnis dia bisa untung hingga puluhan juta rupiah perhari nya. Yah, begitulah orang kaya di Jakarta, uang itu dirasakan tidak pernah cukup oleh mereka. Awalnya saya jengkel dan merasa menyesal, namun, perlahan-lahan saya mulai sadar bahwa jika saya masih memikirkan uang tersebut, saya akan dihantui rasa kehilangan, kecewa yang tiada akhir. Lalu saya pikir bahwa inilah saatnya saya belajar untuk melepaskan. Oleh karena itu,  saya dapat prinsip baru,”kalau memang sudah saatnya kita akan kehilangan, maka lepaskanlah, anggap saja kita harus berdana kepada orang lain, dan kita akan mendapatkan yang jauh lebih baik kedepannya nanti.” Semoga ini bisa menjadi inspirasi buat rekan-rekan sekalian.

Jadi, kesimpulannya adalah uang bukan segalanya, uang tidak bisa membeli kebahagiaan sejati anda, jangan gara-gara uang, anda berubah menjadi orang yang tidak disukai di masyarakat. Daripada menjadi orang yang kaya raya tapi dibenci orang, lebih baik menjadi orang yang sederhana tapi banyak teman dimana saja.

Advertisements